Kamis, 06 Desember 2012

Russel Beserta Mimpinya part 2


II Roller Coaster


Russel terduduk di antara Alex dan Liza. Kakak adik yang memaksa untuk berteman dengannya. Di saat yang bersamaan, Alex dan Liza melepas penghangat kuping mereka.

“Akhirnya, kita bisa jalan-jalan setelah pelajaran yang membosankan.” Alex merentangkan tangannya lebar-lebar untuk merenggangkan otot lengannya. Tidak sengaja, tangannya mengenai hidung Russel. Si pemilik hidung hanya bisa mengerinyit kesakitan.

“Ngomong-ngomong, Russel, tadi kau antusias sekali mau pergi bersama kami!” Liza menyikut pinggang Russel.

“Itu sebenarnya—“ Russel membatalkan niatnya karena sudah terlanjur melihat wajah Liza yang berseri-seri.

“Sebenarnya apa?” Alex mencondongkan wajahnya ke Russel, sambil memasang telinganya baik-baik.

“…Sebenarnya…aku senang sekali diajak keluar bersama kalian.”

Russel langsung menerima dua paket jeritan heboh serta rangkulan erat, nyaris membuat jantungnya meledak. Ia menyesal ia berbohong, tetapi sekarang ia merasa lebih relax, tidak canggung lagi.

“Ini pertama kalinya kau mengutarkan sebuah kalimat yang panjang!” Liza berkata dalam pelukannya.

“Tolong, lepaskan…” Russel berkata terlalu pelan, karena tenggorokkannya tercekik. Sepertinya sang kakak beradik tidak mendengarnya, karena sudah terbenam dalam bau jaket Russel yang wangi.

Ponsel Liza berdering tiba-tiba. Ringtone-nya aneh sekali, karena Russel tidak bisa mengerti satu patah kata pun. Sepertinya itu lagu jepang. Kepala Liza tiba-tiba melompat dari bahu berjaket bulu, dan membentur dagu Russel. Russel mendengus kesal, dan menahan rasa sakit yang lama-lama pudar.

“Hello?” Liza menempelkan ponselnya ke kuping.

Terdengar dari suara ponsel itu: “Liza-chan?

Matanya terbuka dan bersinar terang seketika, seperti baru mendapat suatu pencerahan.
 “ISEZAKII!!” teriakan Liza melengking. Russel berdoa dalam hatinya agar ia tidak menjadi tuli.

“Ya ampun, sudah lama tidak menelpon!...Berita bagus? Apa itu?........Yang benar saja?...Oh my God…Kau tidak bercanda?...”

Russel mempelajari ekspresi Liza dengan baik-baik. Ekspresinya berbeda dengan sebelumnya. Sebelumnya ia senang bukan kepalang seperti orang kerasukan, tetapi sekarang ia makin gembira matanya berbinar-binar, senyumnya sangat berbeda dengan sebelumnya. Kelakuannya mulai ber-etika, seperti tersihir dengan suara yang berasal dari ponselnya.

“Sekarang?..….Kami akan ke Wild Waves Theme Park, sebentar lagi sampai…..bertemu di sana?...Baiklah, see you!” Liza menarik kedua sudut bibirnya sambil mematikan ponselnya.

“Isezaki datang?  Langsung dari Jepang?” Alex menatap liza tidak percaya.

Liza mengangguk.

“Kita akan bertemu dengannya disana?”

Liza masih mengangguk-angguk, namun mulutnya mengeluarkan senyuman yang Russel tidak bisa jelaskan.

“Benarkah?!” Alex menahan nafasnya.

“Benar.” Liza tersenyum.

”Aku tidak bisa mempercayai ini!” Alex mulai mencabik-cabik rambutnya sendiri.

“Aku juga!!”

“Nanti, kita bisa mencoba roller coaster bersamanya, lalu berkunjung ke Riverfront Park, lalu—“

“Membeli harum manis berwarna pink!”

“Dan mengundangnya untuk menginap di rumah kita, kemudian—“

“Menonton film bersamanya sampai subuh! Juga –“

“Siapa Isezaki?” Russel menyela.
***
Rupanya ini dia yang bernama Isezaki. Alex sekarang berhadap-hadapan dengan seorang anak laki-laki Jepang. Anak itu bergaya cosplay, rambut lurusnya dicat pirang, memakai frame kacamata yang terlalu besar sehingga menutupi seperempat mukanya, dan poni rambutnya sengaja dibiarkan tumbuh agak panjang supaya menutupi alis.

Ia memakai t-shirt pink yang berkolaborasi dengan rompi abu-abu dan dilapisi dengan jaket hitam putih abstrak. Celana yang ia kenakan adalah jeans ketat biru kusam, dipadukan oleh high tops yang menyerupai boots terbuat dari kulit berwarna coklat muda. Pundaknya mengenakan ransel kuning yang digelayuti oleh berbagai macam gantungan, dan di telinganya terpasang earphone perak transparan.

Setelah Alex menceritakan bagaimana mereka bertemu Isezaki yang menyelamatkan Liza yang nyaris hilang di Frankfurt, Russel mengerti mengapa waktu itu Liza mengira Isezaki adalah Alex ketika Liza nyaris hilang.  Isezaki dan Alex sangat mirip jika dilihat dari belakang, namun aroma parfum yang Alex kenakan lebih manis dibanding milik Isezaki.

“ Isezaki, Russel. Russel, Isezaki.” Liza mengenalkan mereka ke satu sama lain yang berdiri berhadapan.

“Hi.” Isezaki melambaikan satu tangannya ke Russel.

“Ehm,” Russel berdeham, masih bingung mau berkata apa. Mengapa susah sekali untuk membulatkan tekad, sementara makin banyak anak yang mau berteman dengannya? Semua ini karena Liza. Tunggu, bukan karena Liza. Tapi karena Ayahnya memindahkan mereka ke Washington dan memilihkan sekolah ini untuknya.

“’Ehm’ …apa artinya?” Isezaki memiringkan kepalanya.

“Maksudku, senang bertemu denganmu.” Russel langsung menyemburkan kata-kata itu secara refleks.
Russel mengulurkan tangannya, dan Isezaki menjabatnya dengan kaku dan lamban, seakan mereka tidak yakin dengan apa yang mereka sedang lakukan. Kemudian mereka berdiam diri, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Cuma ada sebuah kerlip untuk satu detik, dan disusul oleh suara jepretan.

“…Eh….ayo kita naik roller coaster!” Liza berusaha memecahkan suasana canggung.

Tawaran Liza langsung disambut dengan gembira oleh Isezaki. Alex dan Isezaki sudah berlari menuju roller coaster tersebut, meninggalkan Liza dan Alex sendirian.

“Ayo!” Liza menganggukkan kepala ke arah Russel, dan berlari menyusul Alex. Tetapi langkahnya terhenti, karena Russel hanya terpaku di tempatnya. Terdiam. Sekarang hanya terdengar suara orang-orang menjerit-jerit asik menaiki setiap wahana.

“Russel?” Liza menepuk-nepuk lengan Russel. Rupanya otot lengannya mengeras, dan badannya agak gemetar.

“Oh! Kau takut naik roller coaster!” Liza tersenyum nakal.

“…”

“Kalau begitu, tunggu apa lagi?” Ia menyeret Russel. Tetapi Russel berusaha melarikan diri. Sayangnya, cengkraman Liza sangat kuat, jadi Liza menutupi matanya dengan kain hitam yang diikat ketat agar Russel tidak meronta-ronta saat mereka berjalan menuju arena permainan. Orang-orang pada menatap Russel seperti ia mau berjalan ke pemancungan.

“Hey, kau! Lepaskan ini!”  Russel berkata ke Liza. Ia terpaksa harus memegang ujung tas Liza agar ia tidak menabrak.

“Heh, kau pikir kau ini siapa? Anak presiden saja bukan.” Liza menatapnya iseng.

“Masak aku mau jadi seperti orang buta? Tidak enak, tahu!”

“Tunggu, pause sebentar omelanmu. Masuk sini.” Liza mendorongnya masuk ke dalam roller coaster.

“Ouch!” Russel mengusap-usap kakinya yang terbentur saat didorong masuk.

“Nah, boleh lanjutkan omelanmu.” Liza menghempaskan dirinya di sebelah Russel.

“Sekarang, copot kain ini! ” 

“Baiklah, baiklah.” Liza mencopot kain hitamnya.

Russel tanpa pikir segera mau melarikan diri, tapi sudah terlambat. Besi pengaman yang berfungsi sebagai sabuk pengaman sudah turun ke atas pahanya. Kepalanya menoleh ke kanan kiri, tetapi sudah tidak ada jalan keluar. Roller coaster mulai berjalan. Panik. Lagi-lagi terdengar suara jepretan menyebalkan itu.

“ Hehehe. Sudah terlambat.” Liza terkekeh. Tangannya kini mencengkram pegangan roller coaster.

“Berani-beraninya kau memperlakukan aku, Russel Woods, dengan semena-mena?!” Ia menatap marah 
Liza yang tersenyum kalem ke arahnya.

“Diam. Kau terdengar seperti juru hukum yang berada di sidang-sidang.” Liza mulai menirukan suara hakim yang berat dan ditarik-tarik agak berlebihan. ia mengulangi perkataan Russel sambil mencibir dan mengacung-acungkan tangannya seperti Hitler sedang berpidato. “Berani-beraninya kau memperlakukan 
aku, Russel Woods, dengan semena-mena?!”

Roller coaster mulai naik.

“Kau…KAU!!” Russel menyambar kerah baju Liza. Herannya, Liza hanya menatapnya datar. “Kau akan ku –AAAHHHH!!!”  Roller coaster sudah melaju di kecepatan kencang, naik turun, berputar-putar. Russel sealu berteriak histeris di setiap tikungan menanjak, dan tentunya saat-saat itu diabadikan oleh kamera Alex.

Ketika roller coaster berhenti, wajah Russel sudah pucat pasi. Ia terhuyung-huyung berjalan ke kamar mandi, dan muntah. Di perjalanan pulang, Russel yang sudah tidak berdaya hanya bisa menatap nanar Liza yang sibuk mengolesi minyak angin milik Isezaki -yang ia beli di Indonesia- di tengkuk Russel.

Setelah ketiga kawannya mengantar dia pulang jam tujuh malam, semua pelayan dan staff rumahnya terkejut. Mereka semua pada berbisik-bisik.

“ Ini pertama kalinya tuan pulang malam.”

“Iya. Dan dia membawa tiga teman.”

“Aku kira ia tidak memiliki teman?”

“ Wajahnya terlihat pucat. Apa yang terjadi padanya?”

“ Entahlah. Hebat sekali, tuan bisa bergaul dengan anak-anak lain.”

Catherine mendatangi tuannya. “Tuan, apakah anda sudah makan malam? Jika belum, sudah tersedia makan 
malam di…”

“Tidak usah…terimakasih.” Russel menyela, dan langsung menutup pintu kamar tidurnya.

“…Terimakasih?” Catherine mengulangi kata-kata Russel, dan memukul-mukul kupingnya. Apakah ia salah 
dengar atau tidak?
***
Russel termenung di dalam kamarnya. Ia melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, dan menatap hampa langit-langit kamar. Kepalanya masih berdenyut-denyut. Dasar Liza, si anak hiperaktif dan keras kepala, berani memaksanya menaiki roller coaster, padahal ia takut ketinggian. Rasanya ia hampir mati saat ia diputar-putar di atas benda mengerikan tersebut. Russel bergidik ngeri.

Selama hidupnya, belum pernah ada orang yang berhasil memaksanya. Kecuali ayahnya. Ia terheran heran melihat Liza yang penuh semangat menjalani hidupnya.  Sangat bertolak belakang dengan Russel.  Kini Russel merasakan bahwa Liza adalah anak yang sangat nyata, tidak seperti orang-orang lain yang selalu mengikuti kemauannya.

 Bau minyak angin dari lehernya masih tercium. Terlalu menyengat. Ia berjalan terseok-seok ke kamar mandi dan membuka keran air. Ia membasuh wajahnya. Tangan Russel yang masih basah berusaha menghapus bekas minyak, tetapi bau dan hangatnya minyak itu masih saja mengelayuti lehernya. 

Ia menatap wajahnya yang suram di kaca. Russel heran mengapa Liza dan Alex bersikap baik padanya, walaupun ia berkata kasar dan tidak memperdulikan mereka.  Ada perasaan yang mendorongnya supaya membatalkan tekadnya untuk tidak berteman dengan siapapun di Washington.

Russel berganti baju dan menenggelamkan dirinya di dalam kasurnya yang empuk. Ia kembali teringat oleh wajah ceria Alex dan Liza dari tadi. Apakah mereka benar-benar menyukainya? Haruskah ia berteman dengan kedua bersaudara tersebut? Kelopak matanya terasa berat, dan ia mulai mengantuk. Ia memejamkan matanya. Mungkin…ia akan bersikap baik kepada mereka. Tetapi sedikit saja.  Sedikit. Saja.

***

Russel Beserta Mimipinya part 3


III Hanyut Terbawa Arus


“Hoi! Kau melamun apa?” Alex menjitak kepala Russel dari belakang.
Russel tersentak  dari lamunannya, mengalihkan pandangan dari bangunan megah yang terletak di depan pekarangan sekolah. Alex sudah berdiri di samping meja kelasnya.

“…Nothing.” Russel beranjak berdiri dan mulai memberes-bereskan buku pelajaran serta menyembunyikan gambar pekarangan sekolah yang ia diam-diam buat saat pelajaran. Sekolah sudah selesai.

“Sehabis ini ada acara, tidak?” Alex mengenakan mantel hijau neonnya.

“Tidak ada, tetapi dalam sepuluh menit aku harus pulang karena—“

Come on!” Alex menarik lengan Russel yang terkejut.

Russel sebenarnya tidak mau ikut, tetapi teringat kembali oleh niatnya semalaman. Ia akhirnya membiarkan dirinya dibawa oleh Alex.

“Mau kemana kita?” Russel berlari mengikuti Alex.

“Menyusul Liza dan Isezaki!”

“Dimana?”

“Di sini!” Alex mendorong Russel masuk ke dalam kedai kecil Ramen murahan.

Isezaki dan Liza sudah berada di dalam , memandangi  Russel yang terheran-heran melihat penampilan kedai yang sederhana.

“Duduk sini dong!” Liza memaksa Russel untuk duduk di kursi plastik berwarna norak.

“Nih, aku memesankan Ramen spesial untuk Russel.” Isezaki menyodorkan piring berisi mie yang masih mengebul-kebul dihiasi Tempura di atasnya.

Russel menerimanya dengan canggung. “…Terimakasih…”

Mereka semua mulai makan. Russel menyumpit Ramen-nya, mencium aromanya terlebih dahulu.

“Ih…baunya aneh.” Ia bergumam kepada dirinya. Baunya membuat perutnya terasa mual.

“Makan saja, nanti lama kelamaan juga suka kok.”  Liza berkata riang.

Russel menyumpitkan sedikit Ramen masuk ke dalam mulutnya. Ia menelan itu seperti kertas karton.

“Bagaimana rasanya?!” Liza tidak sabar bertanya.

“…Yuck.” Russel mengecap-kecap lidahnya, dan meraih botol minumnya.

“Jangan! Tambahkan ini!”  Alex menuangkan tiga sendok saus sambal ke dalam mangkok Russel.

“Ap—!“Russel mulai marah-marah, tetapi sudah terlambat karena Alex sudah terlanjur memasukkan Ramyun ke dalam mulutnya.

“HUAAAHH!” wajah Russel memerah, dan langsung berkeringat. “Air!Air!” 

Bukannya mencarikan air minum, Alex malahan buru-buru meraih kameranya.
***

“Kau tidak pernah makan Ramyun seperti tadi?” Mata Liza menjadi semakin lebar setelah mengetahui  bahwa tadi adalah pengalaman pertamanya memakan Ramyun di kedai murahan. Ia juga kaget mendengar latar belakang keluarga Russel.

Russel mengangguk-angguk canggung, tetapi mulutnya masih kepedasan jadi ia harus meneguk air minum setiap tiga puluh detik.

“ Mengapa bisa? Padahal ‘kan Ayahmu pengusaha kaya.” Alex bertanya sambil mereka berjalan pulang, mengantarkan Russel ke rumahnya.

“Ia tidak pernah memperbolehkanku datang ke kedai-kedai semacam itu, dan, yah…katanya itu tidak baik dilihat jika…seorang anak kaya makan di tempat seperti tersebut.” Russel menundukkan kepalanya.
Alex dan Liza terdiam. Hanya terdengar suara tapak kaki mereka serta klakson kendaraan dari kejauhan.

“Maksudku bukan begitu!” Russel buru-buru menambahkan, melihat ekspresi kedua temannya.

“Aku selalu menginginkan untuk datang ke tempat-tempat seperti itu, bermain bersama anak-anak biasa, menjadi mandiri tanpa pelayan, dan…”

“Kau, merasa senang bisa bersahabat dengan kami?” Liza bertanya pelan.

Russel terhenti di tempatnya, terkejut dengan pertanyaan itu. Beberapa hari yang lalu, ia sudah membulatkan tekadnya untuk tidak berteman dengan siapapun. Kemarin malam, ia terlanjur memutuskan untuk bersikap baik kepada kakak beradik ini. Namun sekarang? Ia rasa ia sudah terbawa terlalu jauh. Persis seperti orang yang hanyut dalam arus sungai dan tidak menemukan pegangan yang ia bisa raih untuk kembali ke tempat semula.Kenangan masa lalunya terbesit di otaknya, menampilkan wajah-wajah suram teman-temannya ketika ia mau berangkat ke London.

“Russel?” Alex menyadarkan dia dari pikirannya.

Russel buru-buru berjalan lagi. “Senang bersahabat dengan kalian?” ia mengulangi pertanyaan Liza.

Kedua temannya menatap Russel dengan penuh semangat, mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Begini, awalnya, aku…mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan saat aku dulu di Texas,” Russel memulai ceritanya. Ia senang diperhatikan oleh Alex dan Liza yang menyimaknya dengan seksama.

“Akhirnya setelah aku menginjakkan kakiku di Washington Junior High,” Russel mengakhiri pengalamannya 
“aku membulatkan tekad untuk tidak berteman dengan siapapun, hanya karena takut menyakiti hati kalian.” 
Ia menendang sebuah kerikil dan tertawa, menyadari dirinya selama ini adalah seorang pengecut.

Teman-temannya memandangnya takjub. Liza mulai membuka mulutnya untuk berkomentar bahwa ia belum pernah melihat Russel tertawa sebelumnya, tetapi Alex membuat tanda untuk tetap diam.

“Kemudian, lama kelamaan…rasanya aku menjadi semakin nyaman saat mulai bersikap baik dengan kalian. Aku sebenarnya sangat bahagia saat mengetahui kalian gembira menerimaku menjadi seorang sahabat, meskipun aku orangnya sinis, arogan dan pendiam.” Russel mulai tersenyum malu.

“Baguslah kalau begitu!” Alex merangkul pundak Russel dengan tangan kirinya.

“Tetapi, aku akan pindah ke Beijing dua bulan lagi…” senyum Russel menguap.

“Hah?! Mengapa?” dahi Liza berkerut.

“Iya, mengapa?!” Alex memprotes.

“Lagi-lagi urusan bisnis Ayah. Ia memaksaku untuk meneruskan posisinya, padahal aku tidak mau menjadi seorang pengusaha bisnis.”

“Jadi, kau ingin jadi apa?” Liza bertanya.

“Aku ingin menjadi seorang aristek.” Russel berkata mantap. Lebih mantap dari pada hawa dingin yang menyelimuti Washington. “Coba lihat ini.” Russel membuka buku sketsa yang ia keluarkan dari tas.

“Wah! Hebat sekali!” Liza memandangi sketsa bangunan yang terpapar di tiap lembar kertas.

“ Ini patut diabadikan!” Alex meraih kameranya dan mengambil gambar hasil karya-karya Russel.
Russel berusaha menyembunyikan senyum bangganya.

“Hey, mengapa kau tidak bilang ke Ayahmu bahwa kau ingin menjadi arsitek?” Liza bertanya.

Ponsel Russel tiba-tiba berdering. Ia mengangkatnya dengan terburu-buru. “Ya?...Oh, ada apa, Ayah?” nada Russel menurun, demikian juga pundaknya. Ia terdiam untuk satu menit, menyimak Ayahnya. Wajahnya berubah menjadi murung. “Tetapi, mengapa? Mengapa harus nanti malam?...Aku tidak menginginkan itu, aku ingin tetap di Washington…Halo, Ayah? Ayah?” sambungan telpon terputus.

“Ada apa?” Liza dan Alex bertanya serentak.

“Malam ini aku akan berangkat ke Beijing karena ada perubahan saham di sana.” Russel menggigit bibir bawahnya. Ia mulai panik.

“ Tenang, tenang. Kau tidak ingin pergi, ‘kan?” Alex bertanya sambil memandang Russel dengan penuh arti.

“Tidak.” Russel menjawab pahit.

“ Kau masih mau dipaksa untuk menjadi pengusaha?”

“ Tidak.”

“Apakah kau mau, membayangkan dirimu lima tahun lagi stress karena tidak bisa menikmati pekerjaanmu? Padahal kesempatan sudah di ambang pintu!”

“Tidak, aku…tidak mau membayangkan itu!” Mata Russel mulai berapi-api.

“ Jika begitu, buktikanlah kepada Ayahmu bahwa kau memiliki cita-cita!”

“Kau pasti bisa, Russel.” Liza menatapnya dengan yakin.

***

Russel Beserta Mimpinya part 4


IV Russel Beserta Mimpinya


“Ayah.” Russel berjalan cepat ke arah Ayahnya yang sudah bersiap-siap di ruang tamu. Liza dan Alex mengawasinya dari gerbang, jantung mereka berdegup kencang.

“Ayo, Russel, persiapkan barang-barangmu untuk pergi.” Ayahnya berkata kepadanya.

No, Dad. Aku…aku ingin tetap tinggal di sini.”  Russel memandang Ayahnya dengan perasaan takut, namun teringat kepada kata-kata Alex.

Apakah kau mau, membayangkan dirimu lima tahun lagi stress karena tidak bisa menikmati pekerjaanmu? Padahal kesempatan sudah di ambang pintu!

“Russel, apa yang kau bicarakan? Kau harus pergi ke Beijing demi meneruskan posisi Ayahmu.” Tuan Woods berkata tajam.

“Ayah, aku tidak ingin menjadi seorang pengusaha bisnis sepertimu.” Russel mengepalkan kedua tangannya.

“Jika kau terus-menerus bersikap seperti ini, apa yang akan terjadi ke perusahaan keluarga ketika Ayah sudah tiada? Apakah akan hancur? Atau mengalami kebangkrutan? Nama keluarga ‘Woods’ tidak akan dipandang sebagai sesuatu yang penuh hormat, prestis dan berkuasa lagi. “

“Oh, begitu ya, Ayah. Ayah lebih menyayangi perusahaan dan nama keluarga dari pada anaknya sendiri?” Russel menyipitkan matanya. Nafasnya makin memburu. Ia tidak percaya ia mengatakan ini di  depan Ayahnya sendiri.

“Bukan, Russel! Ini demi masa depan keluarga dan—“

“Bagaimana Ayah berpikir masa depan keluarga sementara masa depan putramu sendiri tidak diperhatikan?!” Mata Russel mulai berlinang-linang. “Mungkin bisa saja masa depan keluarga menjadi cemerlang, tetapi aku akan menyesal mengapa aku memilih untuk mengikuti paksaan Ayah! Aku memiliki mimpi, aku memiliki mimpi untuk menjadi seorang arsitek, Yah! Lihat ini! Lihat ini baik-baik!”  Russel mengacungkan gambar-gambar bangunan yang selama ini ia kerjakan.

Ayahnya terkejut saat mengamati karya-karya putranya. Kini satu tetes air mata bergulir menuruni pipi Russel.

“Sejak aku berumur sepuluh tahun, aku ingin menunjukkan semua karya-karyaku dan mimpi apa yang aku miliki. Tetapi, Ayah selalu berada di kantor atau sibuk berada di luar negeri, menandatangani kontrak dan perjanjian perusahaan…Ayah tidak pernah bersenang-senang denganku, bertanya ‘Kau ingin jadi apa, nak?’ kepadaku seperti ayah-ayah yang lain. Ayah malahan selalu memaksaku untuk meneruskan posisimu setiap kali aku ingin mengutarkan mimpiku, dan menghancurkan setiap persahabatan yang aku baru buat di tempat yang kita datangi.” Russel menarik ingusnya dan berusaha mengendalikan diri.

“Dari mana kau mendapat semua dorongan ini?” Ayah Russel bertanya sambil mengerutkan kening.

“Semua…semua dari teman-temanku yang disana.” Ia menunjuk ke arah gerbang, dimana Alex dan Liza berdiri.  “Merekalah yang mendorongku untuk berani memberitahu Ayah bahwa aku memiliki mimpi. Aku tidak mau, persahabatanku yang aku buat kali ini, hancur sia-sia.”

Mata Ayah Russel mulai memancarkan sinar lembut. “Russel, kau benar. Selama ini Ayah tidak pernah menghabiskan waktu bersamamu. Ayah juga tidak pernah menanyakan apa mimpimu. Ayah sekarang mengerti, semua yang kau maksudkan,” ia menarik nafas dalam-dalam.

“Ayah selalu mengkhawatirkan masa depanmu akan seperti apa, makanya Ayah memaksamu untuk menjadi pengusaha dan berubah menjadi seseorang yang ambisius. Aku tidak menyangka bahwa aku malah menyakiti putraku sendiri…” Ayah Russel berkata, dan ia serius dengan setiap kata yang ia ucapkan.

Russel menyeka air matanya. Sang ayah merangkulnya. Russel tahu, saat-saat inilah yang ia dambakan selama hidupnya.

“Maafkan Ayahmu, Russel. Aku sudah bersalah terhadap putraku sendiri. Kau boleh tinggal di Washington. Yang paling penting adalah, Ayah sekarang bisa melihatmu berbahagia dengan mimpimu untuk menjadi seorang arsitek dan berterimakasih kepada teman-temanmu yang menanamkan keberanian dalam-mu. I’m proud of you, son.  Ayah Russel tersenyum bangga dan melepaskan rangkulannya.

“Ah, permisi, Tuan Woods. Pesawat anda sudah menunggu di bandara…” salah seorang pelayannya mengingatkannya.

“Wah, saya lupa.” Tuan Woods melirik arloji dan tergesa-gesa mengambil kopernya.

“Ayah akan hadapi masalah di Beijing dahulu, kita akan bersenang-senang bersama setelah Ayah kembali ke Washington. Sampai bertemu minggu depan, Russel.” Ia menepuk bahu putranya. Sekali lagi, ia tersenyum penuh arti ke arah Russel dan masuk ke dalam mobil yang meluncur ke jalanan.

Dua sosok yang Russel tidak akan pernah lupakan berlari-lari ke arahnya dan berteriak, “KAU BERHASIL!!!!”. Lagi-lagi Russel langsung menerima dua paket jeritan heboh serta rangkulan erat, nyaris membuat jantungnya meledak. Kali ini ia balas merangkul Liza dan Alex, teman-teman yang mengubah hidup dan masa depannya.
***
Russel terduduk di bangku taman sekolah. Ear phone terpasang di kupingnya. Ia tersenyum puas sambil menggambar pemandangan taman. Di situ ia menambahkan sosoknya, Liza dan Alex yang berbaring di rumput, menatap langit.

“Hellooo!!” Alex dan Liza menabrak punggungnya dari belakang sehingga Russel tersentak kaget.

“Aduh! Ada apa, sih?” Russel memutar kepalanya. Kepala Alex menggantung di pundak kirinya, serta milik Liza di pundak kanan.

“Habis ini ada acara, tidak?” Liza bertanya, dan Alex menangguk-anggukkan kepalanya.

“Jangan bilang kalau kalian akan mengajakku untuk naik roller coaster atau makan ramen dituangi sambal segunung.” Russel menutup buku sketsanya.

“Bukan. Kali ini surfing di pantai!” Mata Alex berbinar-binar.

“Alex, tolong berpikir dengan akal sehat.” Russel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa geli. 

“Coba pikirkan, udara sedingin ini, salju sudah mulai bertaburan, masak masih mau berselancar?”

“Tapi, itu pasti jadi seru, kan? Di saat cuaca yang membuat kita ingin meringkuk dalam selimut dan malas keluar rumah, kita malah harus mencoba sesuatu yang menantang!” Alex sudah membayangkan ia akan berselancar sambil mengenakan pakaian lengkap untuk musim dingin.

“Jangan, Alex! Nanti kalau Russel mati, kita pasti harus menanggung biaya pemakamannya yang terlalu mewah,” Liza mengguncang-guncangkan lengan Alex dengan wajah penuh horor.

Russel tertawa terbahak-bahak, mendengar kekhawatiran Liza.

“Bagaimana kalau kita karaoke?” Liza menyarankan. “Nanti aku akan menunjukkan Russel kemampuan bernyanyiku!”

“Kemampuan bernyanyi apaan? Suaramu kalau menyanyi malahan terdengar seperti kucing terjepit pintu!” Alex berkomentar.

“Ah, terserahlah.” Liza mengibas-kibaskan tangannya. “Pokoknya nanti sore, Russel bisa tidak?”

“Wah, sayang aku tidak bisa.” Russel mengintip arlojinya.

“Yah… Kenapa?” Liza dan Alex serentak bertanya, tubuh mereka menjadi bungkuk.

Russel melihat Swiss Army-nya. “Karena sebentar lagi aku akan—“ kalimatnya tersela dengan suara klakson mobil yang datang. Ia menengok ke arah sumber suara.
Kaca mobil pengemudi itu terbuka. “Ayo, Russel!” kata si pembawa mobil sambil tersenyum lebar ke arah Russel, lalu ke Liza dan Alex.

“Ah, itu ayah sudah menjemputku,” wajah Russel menjadi terang. Ia membereskan barang-barangnya dengan ligat.

“Eh, ayahmu sudah pulang?” Liza bertanya canggung karena ia tahu bahwa mereka sedang diperhatikan dari jauh oleh Tuan Woods.

“Baru kemarin.” Russel memasukkan buku gambarnya ke dalam ransel, lalu menutup zipper dengan sekali tarikan. “Oke, aku pergi dulu!” ia berlari menuju pintu mobil.

“Mau pergi ke mana?” Alex berteriak agar Russel bisa menedengarnya.

“Ke pameran arsitektur,” Russel menyahut. Ia masuk ke dalam mobil.  “Bye!” ia melambaikan tangannya melalui kaca mobil, memperhatikan Liza dan Alex yang membalas lambaiannya.

Russel bersandar dan menyunggingkan sebuah senyum. Ia benar-benar berhutang budi kepada Alex dan Liza, kakak-beradik yang nyentriknya minta ampun. Jika tidak ada mereka, tidak mungkin ia mencapai saat-saat ini. Tidak mungkin ia bisa menjadi orang yang memiliki keinginan kuat serta percaya diri. Tidak mungkin ia berubah dan bertumbuh sampai sedewasa ini.

Kini hidupnya diwarnai oleh kebahagiaan, maupun yang berasal dari keluarga atau dari teman-temannya. Ia melirik Ayahnya yang sedang mengemudi untuk dia. Semua gara-gara Liza dan Alex, orang-orang yang mewujudkan mimpi dan segala hal yang Russel dambakan sejak dahulu.

Sekarang ia melirik kaca spion. Russel melihat sebuah kerlip kecil yang familier, berasal dari Alex. Figur dua orang itu makin lama makin mengecil, karena mobil Russel sudah menderu kencang di atas jalanan Washington.
*E.D.K.*

Minggu, 18 November 2012

(Almost) Lost in Frankfurt


It was 12th October, the Fall Season. I started to walk down the street, full of foreign crowd heading to the Frankfurt Festival. The air was cold, but I sensed excitement in them. I nudged Alex, my brother. He was only fifteen, one year older than me with straight blond hair like the American boys usually had.

“Hey, you’re coming with me to the Fair?” I asked.

“Hold on.” He answered. There was a call coming in. He took out his blackberry from his pocket, and put it right on his right ear. “Yes, Mom? … I’m going to the fair with Liz…We’re heading there...No need to worry about our safety, we’re big enough….Yes, I’ll take care of her…Bye.”

“You’re coming?” I asked anxiously. I felt miserable because Alex was the only company I had while we’re having vacation. Like I had to tail with him everywhere he went, or vice versa. So lonely.

“Already heard what I said to mom, right?” he put his phone into his pocket again.

“Yeah. Just trying to make sure. I thought you want to take photos of the view while we’re out of school in Washington.” I fastened the purple shawl on my neck, still thinking for a new friend.

“ Actually, I want to. But on second taught, it seemed fun to go with you there, although the photos for my collection isn’t completed yet…” he checked the pictures in his camera.

I had to stand on my toes to peek the shots he got in his camera, because of his height. I could smell his sweet perfume while my eyes watched the landscapes captured by him.

“Nah…never mind! It would be a lot of fun, visiting the world’s largest book fair.” I said while I walked. 

“So, now we just follow the crowd to the Fair?” I asked.

“Wait, I’ll ask her.” he rushed to a lady, who wore black jeans, a hood plus a windbreaker.

I could hear he talked with her in German. Then he came back to me. “Yes, she’s heading to the Fair, so we can follow her.” He said.

In a few minutes of walking, we arrived to the place. The place was full of books and people, walking, talking and reading.

“Let’s go in!” I pulled his hand and went inside quickly as fast as I could.

“Hey, slow down, Liz!” he said, because he bumped into people who didn’t seem to care about him.

We passed the Sparks Stage 8.0 (a place where people or authors discussed their ideas that suddenly showed up, sort of brainstorm) and headed toward the Comics center.

“There!!” I pointed at two empty seats and dragged Alex there.

“What are you…?” he asked.

“Sit!” I yelped with too much excitement, and we both sit there. In front of me, there was a flat monitor. I grabbed the mouse and move it. I browsed for my favorite comic.

“Found it!” I scrolled the mouse and clicked the tittle.  

I didn’t notice that I read for hours while I’m listening to my iPod. As usual, Alex did his must-to-do ritual every time we went to a bookstore, library or places that have the connection with books. His ritual was moaning many times because he wanted to go out with the reason he already checked the stuffs and was bored. I totally ignored him, because I sank too deep in my own world.  

When I felt fed up with the comics, I turned my head at Alex. His chair was empty, and he was nowhere in sight. I started to panic, and grabbed my cell phone. The moment I turned on my phone, there was a low-battery sign and immediately my phone went off. Great, Alex! You said you’re going to take care of your sister. I wished I have a friend who could be with me right now.

My shoulders slumped at that wish. I also forgot the way to my hotel too. Horrible imaginations started to haunt me. What if I started to starve to death with no place to sleep, someone put me in the orphanage, adopted by a couple who find me or NEVER RETURN to America?! What should I do? Search for him in this crowded place full of thousand people? Bad idea. I bit my lips and hit my own head. Why am I so stupid? Wait! My face lit up.

I opened Google Chrome and went into Yahoo. Lucky I remembered that Alex’s blackberry can receive e-mails. I texted him:

Where are you? I’m dying here!

I waited for a minute, and a message went in. It was Alex.

Checking out landscapes magazines right outside the entrance.

I breathed out loudly and hit my chest with relief. Saved. I ran outside. Then I spotted a familiar figure with blonde hair, but he was not facing me. I only could see his shoulders. I ran near to him.

“Alex!” I hit him from the back.

Then he turned and brushed his shoulder. I was shocked and my face turned red. It was not Alex. My nose didn’t detect any sweet perfume too, like Alex had.

“Ah! Sorry! I thought you are my brother and you really like him and you really resembled him and, and…” I continued to blurt on.

The guy I hit was an Asian boy in a cosplay mode. It’s too late to turn back to the computer booth in the Comic Center.

“Can I help you?” he opened his mouth, but still stared at me with a puzzled look. He was wearing glasses with big frame that covered one fourth of his face, and his blonde pony hid his eyebrows.  

“Er…can you show me the way to Imperial Hotel?” I asked but still hesitated. I resented I asked that question. Not everyone knows that hotel where I stayed, especially when they’re not from around here and wore eyeliners, looking like comic characters.

“Never mind…” I said and smiled, started to walk pass him.

“Wait. Imperial Hotel? I know that place, it is where I stayed.” he unexpectedly replied me.

I stopped in my place, “You knew it?”

I can’t believe what I’m hearing. But what if this comical boy wanted to trick me or did something terrible? 
Maybe kidnap me? “Show me your hotel card. The ones you used for opening your room.” I said without realizing it.

He gave out the hotel card. Room 301. I could read it from here. My eyes opened wide.

A moment later, we were walking on the Frankfurt streets, heading to the hotel. I learned that his name was Suzuki Isezaki, and he was taking a stroll while his parents were having a meeting at the Sparks Stage in the Frankfurt Fair. He was from Japan, and loves cosplay too much. His age was like Alex’s and hates Science, like me.

“So, Alex left you?” Isezaki said to me after I told the story.

“Yeah. Irresponsible brother, right?” I huffed.  “Lucky I met you.”

He laughed. “Met me by hitting me on the shoulder.”

“ Really, I’m so sorry for that.” I apologized, still felt guilty.

“ Don’t mention it, it’s fine. How many times I told you?” he smiled at me. His Y-Style glasses’ frame glinted because of the sun.

“ If Alex picked up the last call that was coming in from your phone that I made, you wouldn’t have to be bothered with your stroll.” I buried my hands in my pocket.

“No, I’m not bothered at all.” Isezaki waved his right hand, signaling it’s no problem for him. “I’m happy I could help you and made friends with you, Liza.”

I laughed. This guy is really easy going.

We arrived at the hotel. Me and Isezaki marched to my room, which was next to him. I knocked, but there was no answer. Only silence. I remembered that my mom said she wanted to do some shopping.

“Gah! My mom isn’t here, and the card is with her and Alex.” I leaned on the door. I sighed. “She is shopping right now.”

“Hm…” Isezaki scratched his head, thinked. “How about having tea at my room while waiting for Alex or your mom?”

I lit up. “Sure! Why not?”

We entered his room. He said that his parents’ room was on the fourth floor. We had some tea and chatted for a long time like old friends. The good thing was, he had the same hand phone like mine, so I could borrow the battery charger. I called Alex, and he said he’ll be there in five minutes.

“Dumb brother.” I said as I turned off the phone.

Isezaki just grinned at me while he was watching the NBA or sort of it in the flat and sipped his hot tea on the sofa.

“Oh! Oh! Three points!” he jumped to his feet. His eyes widened and his mouth opened wide.
I giggled and sat beside him, joined watching the basketball league. Less than five minutes, there was the sound of a pair of dragged footsteps that I recognized. Alex.

“It must be your brother.” he started to walk for the door, but I’m already there. I opened the door. There was Alex, standing in front of the door, with an innocent face that showed no sin.

“You!” I glared at Alex. I lunged at him, hit him with the Karate moves like in the films. I got him on the head.

“Hey! Hey!” he pulled me aside. Too bad my power is much more less than him.

He stared at Isezaki who was standing behind me and to me. He blinked his eyes once, confused.

“Hi.” Isezaki gave him a half smile. Alex was nodding at him with a look that was unsure of something.

“Oh, this is Isezaki!” I told him. “Isezaki, Alex. Alex, Isezaki.” I introduced each of them to each other.

“Uh…the connection, please? How did you guys met?” Alex tilted his head, puzzled. He was standing there like a stupid person. I’ll change it, not a stupid person, but an idiot.

I told him the whole story. “ Finally, Isezaki saved me!” I folded my hands , pouted and ended my experience like a fairy tale.

“Sorry, sis.” Alex grinned and ruffled my hair with his hand. He leaned closer to me and whispered, “You found your prince, eh?”

I slapped him in the face. I turned red. “How could you—“ I stopped because I remembered that Isezaki stared at us in amazement, like watching a real opera performance.

“Ouch.” Alex rubbed his cheek.

Isezaki just laughed, and it broke the ice. “Okay! You guys wanted to hang out at my room?” he said, and 
Alex’s awkwardness between him disappeared.

Alex gave Isezaki a dazzling smile with his crystal white teeth. “Sure!”

Three of us went in. Actually, Alex really matched up with Isezaki. Their interest about sports was the same and how they joked around was the same. Each of us always ended laughing while rolling on the floor carpet while Alex or Isezaki told a funny story. We spent the rest of the vacation with Isezaki and enjoyed it very much.

When I flied back to Washington, I stared at the clouds. I smiled to myself. I remembered the first time I met Isezaki, how we became friends and finally said goodbye twenty minutes ago when each of us went back to our own country. I will never forget that comical boy who later became my close friend that saved me from being lost in Frankfurt. I thanked God ...my wish was fulfilled.