Kamis, 15 November 2012

Hari Yang Tidak Akan Pernah Kulupakan



Hari ini adalah hari yang paling mengesankan dalam hidupku. Malam ini sambil aku berbaring di ranjang dan menulis buku harian, aku kembali teringat kejadian tadi siang. Mungkin aku bisa menceritakan sedikit.Ah, jangan sedikit, semuanya saja,  selagi masih ada waktu sebelum aku tidur.

Seperti bisa, pada pagi hari aku selalu menghafalkan Torah, belajar, lalu membantu ibuku untuk membersihkan rumah. Rumahku yang sederhana, terbuat dari batu dan dihiasi oleh rak-rak berisi gulungan- gulungan kitab dan koleksi senjataku, cukup berdebu untuk ukuran sebuah rumah yang terletak di atas tebing, mengarah ke pantai.

Waktu itu aku sedang mengelap perisai hasil tempaanku sambil bersenandung, tapi terhenti karena mendengar dua pasang langkah kaki  berhenti di depan pintu belakang rumah. Teman ibuku, Claudia, datang berkunjung.

" Halo, Asher." ia menyapaku sambil tersenyum. Rambutnya ditata rapi layaknya seorang bangsawan Roma.

"Selamat pagi, Nyonya Claudia" aku menjawab sapaannya.

"Asher! " seorang anak laki- laki muncul dari belakang Nyonya Claudia.

Ia menyapaku sambil meringis lebar. Ia mengenakan Toga (pakaian untuk laki- laki Roma) berwarna ungu dan putih.

"Eh, Octavius!" aku langsung menaruh lap dan perisai yang aku bawa di atas meja dan menepuk bahu kanannya.  " Bagaimana sekolahmu?" aku bertanya, sambil tanganku merasakan halusnya kain sutra yang ia kenakan.

" Sekolahku lumayan menyenangkan, dan ada sesuatu yang terjadi." Octavius mendongak ke Ibunya sambil mengangkat kedua alisnya, memberikan pandangan bolehkah-kita-memberitahu-mereka-?

"Jadi...kami sekeluarga percaya kepada Yesus..." Nyonya Claudia berkata dengan serius, namun ia tersenyum senang.

"Semuanya karena salah satu murid kelasku menceritakan bagimana ia merasakan hidupnya berubah saat ia ikut Yesus."  Octavius melanjutkan.

"Saat itu juga Octavius percaya kepada Yesus, dan kami sekeluarga pun juga ikut dipulihkan dan mengikuti Dia." Nyonya Claudia menyelesaikan ceritanya.

Hatiku mendengar itu langsung melompat-lompat dengan sukacita.
" Ini berita yang bagus! " aku merangkul Octavius.

"Ini berita yang SANGAT bagus!" Ibuku muncul dari dapur sambil tertawa. Ia merentangkan tangannya dan memeluk Nyonya Claudia.  "Claudia, aku turut bersukacita."

"Begitu juga aku, Maria. " ia tersenyum, dan berjalan masuk ke ruang duduk bersama ibu sambil berbincang-bincang. Biasalah, namanya semua ibu-ibu sama.

Aku dan Octavius duduk di tangga teras belakang.
"Wah, tidak terasa sudah seminggu kamu tidak main ke sini ya." aku berkata.

"Iya. Aku sebenarnya juga agak bosan tinggal di rumah tutorku. Setiap pagi pasti bangun, mencuci muka dan sarapan. Lalu disusul oleh pelajaran sampai matahari terbenam." ia mencabut-cabut rumput liar di depannya sambil berbicara.

"Bagaimana murid-murid yang lain? Apakah mereka menikmati sekolah privat bangsawan itu?" aku kembali bertanya sambil menopang daguku dengan satu tangan.

"Mereka juga bosan, sama sepertiku. Kecuali untuk Felix." ia menjawab .

"Felix?"

" Dia anak yang membuat hidupku berubah total dengan memperkenalkanku kepada Tuhan."

" Begitu ya. Lalu, hari ini sedang libur?"

" Bukan, justru ibuku yang meliburkanku untuk beberapa hari karena ingin mendengar alasan mengapa aku bisa berpaling dari para dewa." Octavius tertawa.

Kami hanyut dalam obrolan sambil menikmati suara debur ombak dan udara pantai, lalu melatih kemampuan bertempur kami dengan bermain pedang.

Beberapa jam kemudian, mataku menangkap serombongan orang yang berjalan berbondong-bondong. Karena saking banyaknya kaki yang berjalan, terlihat debu mulai bangkit dari tanah. Aku memasukkan pedang yang kupegang ke dalam tempatnya dan mengelap keringat yang bercucuran di dahiku.

"Wah, apa itu?" Octavius juga menurunkan senjatanya dan merenggangkan pergelangan tangan. Rupanya ia juga memperhatikan keramaian tersebut.

"Pak, ada apa di sana?" aku berteriak kepada seorang nelayan yang sedang membenahkan jaring ikannya cukup jauh di bawah tebing, dimana rumahku terletak.

"Mereka mengikuti Yesus yang baru saja datang naik perahu." kata si penjala ikan.

Ini adalah kesempatan bagus! Aku dan Octavius saling berpandangan untuk sesaat. Kemudian kami langsung melejit masuk ruang tamu. Untung saja ibuku dan Nyonya Claudia memperbolehkan kami pergi.

Dalam beberapa detik, kami berdua sudah berlari menuruni lereng tebing sambil menikmati angin yang menerpa kami. Otot kakiku berolahraga kembali. Aku dan Octavius berjalan cepat menuju kerumunan itu. Sambil menerobos masuk, aku meraba kantong makanan yang ibuku berikan sebelum aku keluar dari ambang pintu.

Kami berdesak-desakan dengan orang lain sampai harus mengutarkan "permisi", "maaf, kami mau lewat", "tolong, jangan injak kakiku" dan lain-lainnya. Akhirnya juga kami sampai ke barisan yang paling depan. Di situ kami berdiri, lalu duduk ( karena lelah) bersama orang dewasa serta banyak anak.

Saat aku melihat Yesus untuk pertama kalinya dengan mata kepalaku, hal yang mengejutkanku adalah sinar matanya. Sinar matanya sangat lembut, penuh sukacita dan kebijaksanaan tetapi tegas dan tajam. Aku benar-benar merasakan tatapan itu sedang memasuki hatiku dan membaca sejarah hidupku beserta apa yang kupikirkan, kurasakan dan semua yang ada dalamku. Aku berpaling ke Octavius. Ekspresinya sama denganku. Mata terbuka lebar serta nafasnya terhenti untuk sesaat. Aku tertawa dalam hati, mengetahui apa yang is sedang rasakan. Sama sepertiku.

Ah, tunggu. Pause ceritanya sebentar. Menelan ludah.Tenggorokanku kering. Baiklah, kita kembali ke cerita.

Jadi setelah itu, kami berdua mendengarkan pengajaran dan khotbah yang Yesus berikan. Tidak terasa, hari sudah berubah menjadi sore. Matahari nyaris terbenam. Saat itu juga perutku berbunyi keras. Aku rasa aku bukanlah orang satu-satunya yang berbunyi perutnya. 

Aku melihat sekelilingku. Banyak yang mengusap-usap perutnya, gelisah dan mengeluh betapa jauhnya mereka harus mencari makanan karena tidak ada penjual makanan di sekitar ini. Mereka benar juga. Bahkan Ada banyak yang berasal bukan dari daerah sini.

Aku merogoh kantong makanan pemberian ibu. Aku mengintip ke dalammya. Hanya ada lima roti buatan ibuku serta dua ikan yang sudah diolah menjadi ikan bakar. Aroma gurih ikan bakar itu memasuki hidungku. Jelas sekali bahwa bumbu ikan itu meresap sampai ke tulang-tulangnya. Perutku makin keroncongan.

" Psst, Octavius." aku berbisik.

"Apa, Asher?" ia menjawabku. Aku bisa mendengar perutnya juga berbunyi.

"Em...aku punya makanan. Cukup untuk kita berdua. Mau tidak?" aku menawarkannya dengan sukarela.

"Mau saja, tapi..." ia melihat ke belakang. Aku juga.

Semua mata sudah menatap kami dengan tatapan orang Viking yang kelaparan. Untung saja mereka tidak menyerang kami dengan kapak.

" Tapi tidak enak juga makan di depan banyak orang yang kelaparan..." ia melanjutkan bicaranya dengan pelan.

"Kau benar." aku menatap makananku. Aku melihat murid-murid Yesus hilir-mudik, berbicara dengan satu sama lainnya. Aku mendengar mereka menyinggung soal makanan. Sebelum aku menyadarinya, aku sudah berjalan ke salah satu dari mereka.

"Anu..." aku menyentuh punggung salah satu murid yang sedang menghadap berlawanan denganku. Ia menoleh.

"Aku memiliki makanan. Tolong ambil ini." aku menyodorkan kantong ikan bakar dan rotiku.

Murid itu menerimanya dengan senang hati. Ia tersenyum ke arahku, dan aku membalas senyumannya. "Terimakasih." ia berkata.

Aku kembali ke tempat dudukku. Octavius menepuk lenganku dengan bangga, mengacungkan      Ibu jarinya. Aku melihat si murid itu menyerahkan kantong makananku ke Yesus dan membisikkan sesuatu ke Dia. Yesus menengok ke arahku dan memberikan senyuman terimakasih . Senyumannya menumbuhkan suasana hangat dalam diriku. Aku meringis lebar dan menganggukkan kepalaku.

Yesus berdoa dan memecah-mecahkan rotinya. Ia juga membagi-bagikan Ikan kepada semuanya. Kami makan sampai kenyang, dan terkagum-kagum karena sisa makanannya yang berjumlah dua belas keranjang.

Saat kami beranjak untuk pulang, Yesus mendatangiku. Jantungku berdetak gugup. Rasa ingin jumpalitan memasuki hatiku. Senangnya bukan kepalang!

" Nak, terimakasih sudah memberikan bekalmu." Ia memberikan senyuman kepadaku. Senyuman tersebut membuat sekujur tubuhku mengubah perasaan yang hangat tadi menjadi tambah panas. Nyaman sekali. Aku juga bisa mencium bau minyak Narwastu yang mengudara.

Aku mengangguk mantap serta meringis lebar. " Terimakasih kembali.” 

Ia menaruh tangannya di atas kepalaku yang berambut pendek, dan satunya di bahuku. Ia memberkatiku dan akhirnya 
berkata, “Pulanglah, Asher dengan damai sejahtera.” 

Aku terkejut, girang, serasa memiliki kupu-kupu dalam perutku saat Ia mengetahui namaku tanpa berkenalan. Aku berpamitan dengan senyuman terbaikku, dan mulai berlari pulang menyusul Octavius sambil berlomba menaiki lereng tebing. 

Sampai situ ceritanya, ya. Aduh, Ibuku sudah memberitahuku untuk tidur, agar besok bisa berkunjung ke sekolah Octavius. Sekarang, aku hanya harus membereskan tempat tidurku yang berantakan, terciprat tinta. Ah, besok saja mengganti alas kasurnya. Langsung tidur saja lah. Mataku sudah berat dan aku sudah menguap dua belas kali saat aku menulis. Pokoknya, hari ini adalah hari yang tidak akan pernah kulupakan! 


Kamis, 08 November 2012

Usuii! (Part Two)


-Continued part of "Usuii! (Part One)"

Dalam beberapa menit, Robot Club langsung dimulai setelah semua anggota menatap Usuii dengan pandangan yang bercampur aduk. Kebetulan sekali mereka datang di saat yang tepat ketika Kaoru tercebur ke dalam kolam.

Parahnya, mereka tidak menolong Kaoru duluan, malahan panik melihat kondisi Lady Moa yang basah kuyup. Lady Moa menyebabkan hiruk pikuk yang amat, diiringi oleh “Gawat, Lady Moa-nya Kaoru-san tercebur!”, “Periksa keadaanya!”, “Aduh, semoga pusat kontrollnya tidak rusak!” , “Ba-ba-gaimana ini…huahhh!” , “Ambil hair dryer!” , “Sudah, Mia, jangan menangis, Lady Moa akan baik-baik saja.” dan lain-lainnya.

Haruka sendiri yang menolong Kaoru. Untungnya, Haruka membawa sepasang baju ekstra, handuk dan peralatan mandi karena dia habis berenang. Kaoru langsung disuruh mandi di kamar mandi umum taman.

Sekarang Kaoru duduk di samping Haruka. Bau wangi dari shamponya memasuki hidung Haruka. Anggota-anggota yang lalu-lalang memandangi Kaoru, tidak lagi sibuk bermain bersama-sama teman-temannya atau robot mereka.

“Sana! Jangan memandangi orang terus!” Kaoru dengan malu memarahi mereka.

Haruka tertawa. “Ya ampun, Kaoru. Kau terlihat seperti fanboy dengan t-shirt pink ‘I Love SNSD’ serta jeans ketat! Aku harus mengabadikan momen ini!”

“Jangan!” Kaoru berteriak, tetapi teriakannya sudah dilampaui oleh kamera Haruka.

Tiba-tiba saja ada barang aneh yang terbang di langit, melewati kepala Haruka dan Kaoru. Nyaris memangkas rambut mereka. Barang itu berbunyi “Tuan Keroro lewat!” dengan suara datar yang tidak bernyawa. Kedua sahabat itu menoleh ke satu arah.

“Usuii!!” keduanya berteriak. “Hentikan itu!”

“Maaf, tidak bisa!” ia tersenyum nakal. “aku akan –AH!!!” ia berteriak. Remote control 
Tuan Keroro hancur karena tertabrak dengan robot itu sendiri.

“Kan, Usuii, sudah kami ber tahu!” Kaoru berteriak.

Sekarang Tuan Keroro kehilangan kendali, terbang kesana kemari, memangkas apa saja dari tanaman, rambut orang, sampai mantel bulu mahal seorang wanita.

“Lari!!!” Usuii berteriak.

Semua yang di taman melarikan diri. Ada yang mengira perang dunia dua, serangan tiba-tiba dari negeri sebelah, atau alien.

Haruka berlari panik, tapi Tuan Keroro gila itu tetap mengejarnya. “Usuii! Selamatkan aku!” 

“Tunggu, aku akan merakit ulang remote-nya!” Usuii buru-buru melepas rakitan controller Tuan Keroro. Pundaknya langsung turun. Sirkuit listriknya sudah rusak parah, kabelnya banyak putus dalam, dan antenanya patah.

“Kaoru, bawa suku cadang, tidak?” Usuii berteriak ke temannya yang berlari terbirit-birit.

“Bawa!”

“Bantu aku untuk merakit ulang remotenya!”

“Enak saja, padahal kau yang—“

“Sudahlah!”

“Baik-baik.” Kaoru langsung menghempaskan dirinya ke rumput.

“Tunduk!” Usuii berteriak, dan Tuan Keroro melayang secepat kilat, kemudian kembali 
mengejar Haruka.

“Tuan Keroro!” suara itu berada di setiap tempat dimana si robot kurang waras berterbangan.

“Cepat! Aku tidak tahan lagi!” Haruka mukanya mulai memerah, dipenuhi dengan peluh. 
Rambutnya sekarang sudah acak-acakan.

“Kaoru ini ‘blue print’ remotenya,” Usuii membuka kertasnya “dan kita harus menaruh kabel dan penghubung antena di sini, sini, dan sini.”

“Tunggu, kau bilang ini ‘blue print’ padahal kertasnya kuning?” Kaoru berkomentar

“Hah, kalau begitu aku akan memanggilmu ‘Pinky Boy’ selama satu semester!”

“Tuan Keroro!”

“Guys!!” Haruka berteriak. Tuan Keroro masih menerornya.

“Robotmu itu sangat menyebalkan. Dia berlagak seperti penguasa dunia saja.” Kaoru mendengus kesal. “Dan sekarang Lady Moa-ku harus dikeringkan karenamu.”

“Hehe…”

“Apanya yang lucu? Minta maaf dulu!”

“Tenang, tenang. Okay, maaf. Aku terlalu ceroboh melakukan hal itu.” Tangan Usuii sibuk bekerja dengan ligat.

“Permintaan maaf diterima. Apa yang lucu?”

“Kau sangat mencintai robot sampai segitunya.”

“…”

“Kalau semua ini sudah berakhir, aku akan memberikan Tuan Keroro untuk kamu.”

“…Robot gila itu?”

“Iya. Mengapa tidak?”

“…Aku menyukainya, desainmu hebat sekali! Tapi kau rela?”

“Aku rela kok.”

For real?

Sure!

“Arigatoo!!!!” Kaoru melompat-lompat, tapi langsung jatuh terjerembab karena “Tuan Keroro!” melintas.

“Enak ya ngobrol gitu! Aku…tidak..kuat lagi!” lari Haruka mulai melamban.

“Bertahanlah! Hitung sampai 40 detik, dan kami pasti selesai!” Usuii berteriak ke Haruka yang sangat jauh larinya. Semua orang kini memperhatikan mereka dengan pandangan apa-mereka-gila?

“Usuii, kau yakin?!” Kaoru terkejut.

“Iya. Haruka, mulai!” Usuii langsung bekerja 2 kali cepat.

“1…2…3…4…5…”

Tangan Kaoru dan Usuii makin cepat, tapi blue printnya terbawa angin.

“Blue print…” Kaoru memulai.

“Tidak usah dipikirkan! Turuti saja kataku.” Usuii mulai memberikan perintah.

“28…29…30…”

“Ayo, tangan! Bekerja lebih cepat!” Usuii bergumam, tangannya sibuk menyekrup kiri kanan.

“35…36…37…38…”

“Tuan Keroro!!!” jerit sang robot gila dengan suara sengau.

“39…40…” Haruka terjatuh. “U-usuii..!” Haruka menjerit pelan, matanya terbuka lebar dan bibirnya mulai bergetar.  Tuan Keroro akan menabrak Haruka.

Seperti slow motion, Usuii menutup remote control dan langsung disekrup oleh Kaoru. Antena sudah terpasang, dan serentak mereka menekan tombol off.

“Tuan Kero—“ Tuan Keroro terjatuh ke tanah, dan asap keluar dari kepalanya.

Haruka berjalan terseok-seok ke arahnya bersama Kaoru yang membantunya. Mereka tertawa dan memeluk si Usuii, pemilik robot yang tidak waras yang sama gilanya dengan ciptaanya.

“ROBOT GILA MATI!!!!” Usuii berteriak dengan kemenangan, dan mengacungkan tanda victory.

*E.D.K.*

Usuii! (Part One)


Seperti biasa, sore hari di sekolah SMP Sakura ada tes mingguan. Bisa dilihat dari jendela raut wajah setiap murid yang kusut. Tidak ada yang bersuara sedikit pun. Kecuali si Usuii yang berjongkok di bawah mejanya.

“Usuii-san! Kembali ke tempat dudukmu!” teriak Inomoto-sensei. “Awas kalau kau tertangkap mencontek lagi ya, nanti saya akan mengadukan ke kepala sekolah dan memastikan kamu dihukum membersihkan toiliet!”

“Nggak perlu teriak-teriak sensei, saya punya telinga  kok.” Usuii berkata. Otomatis tawa kecil langsung menggelegar di ruangan.

“Masak mengambil bolpen jatuh saja tidak boleh.” Ia bergumam agak lantang.

Murid-murid yang lain berbisik-bisik setuju, mendukung pendapat Usuii.
Inomoto-sensei langsung beranjak dari kursinya. Murid-murid yang ia lewat langsung kembali fokus ke kertas testnya. Namun mencuri-curi pandangan ke Usuii.

Bisa terlihat ia mengambil bolpen, tapi kalau dilihat lebih dekat, tangannya meraih  gulungan kertas kusust. Ia terkekeh pelan, tidak sampai…

“AWWW!!”  Usuii berteriak, menusap-usap pantatnya yang kena cubit.

“Rasain ya!” pak Inomoto berteriak dari belakangnya. Pukulan mendarat di punggung Usuii.

Suasana makin riuh.

“Bapak ini guru macam apa sih?!” ia menendang kaki Inomoto-sensei. Tendangannya melayang seperti kaki belakang kuda yang habis melompati rintangan.

“Dasar murid keparat!” Teriakan Inomoto-sensei berubah menjadi badai halilintar. Secepat kilat, tinju ala Chris John sudah melayang ke Usuii. Tetapi sudah terlambat.

Usuii sudah melompat keluar jendela.Gerak-geriknya seperti maling.

Ia berteriak “Sayonara!!” 

***
Usuii terduduk di atas kursi taman Shiroi. Bahunya masih naik turun untuk bernafas. Ia menyeka keringat yang menuruni pelipis.Ia sangat Beberapa detik kemudian, ia sudah mengaduk-aduk ransel jinganya.

“Nah, rupanya kau bersembunyi di sini ya!” ia mengangkat robot rakitannya yang bermodel Keroro. Usuii menatap Tuan Keroro yang berada kedua tangannya yang ia julurkan tinggi-tinggi.

“Tuan Keroro, kau akan bermain bersama teman-temanmu hari ini di Robot Club jam…” Ia melongok ke jam tangannya.

“Jam setengah empat. Cuma kita harus menunggu lima belas menit lagi. Setuju?”

Tuan Keroro menangguk-angguk. Kepalanya langsung copot karena Usuii menggoncangkannya terlalu keras.

“Baiklah kalau begitu! Tapi kau perlu berdandan sedikit karena kau terlihat seperti Marie Antoinette dari guletin.” Usuii tertawa geli.

Kemudian tangannya yang dicoret-coret oleh bolpen mulai mengutak-atik mesin itu. Ia menghubungkan kabel-kabelnya dengan sensor penggerak yang berada di tengkuk Tuan Keroro.

“Oi, Usuii!”  dari kejauhan terlihat sosok anak laki-laki yang jangkung sedang berlari-lari  ke arahnya. Ransel di punggungnya juga ikut melompat-lompat.

“Kaoru! Akhirnya kau datang juga!” Usuii menyambutnya dengan tonjokkan berlumuran oli berbau menyengat. “Aku tidak sabar untuk yang lain berkumpul! Gara-gara test Fisika aku melarikan diri dari sekolah! Bayangkan, Inomoto-sensei nyaris meninjuku, dan—“

“Dan kau selalu tahu cara menghindar. Selalu. Aku sudah hafal bagian itu.” Kaoru tersenyum puas.

“Hah, kau tahu saja!” Usuii menepuk tangannya.

“Wah, wah, wah, rupanya Tuan Keroro sedang dipoles ya? Pasti mata Lady Moa akan membesar!” Kaoru  mengeluarkan robot anak perempuan seukuran Keroro. “Ta-da!!”

“Wuih, cantik amat!” Usuii mendecak kagum. Robot mengkilap Kaoru menyilaukan matanya. “Lihat!” ia menyambar Lady Moa. Tapi gagal.

“Eits, tidak bisa! Lady Moa itu milikku.” Kaoru tersenyum licik. “Kau kan sudah punya Haruka.”

“Kau sudah punya Haruka apanya?” tiba-tiba saja Haruka sudah berada di depan mereka. Matanya menyipit dan tangannya melipat. Rambutnya yang ia tata asal-asalan mengikuti irama angin.

“Ah, eh, tidak apa-apa!” Usuii langsung berkeringat dingin, dan wajahnya memerah sampai seperti stroberi.Ia mengibas-kibaskan kedua tangannya. “Kok anggota yang lain belum datang, ya?”

Kaoru merengut “Cih, mengalihkan pembicaraan saja. Back to the topic! Bukankah kau kesini karena ingin bertemu Haruka juga ya?”

“Kau berbicara apa sih?” Haruka bertanya.

“Dia berbicara omong kosong kok!” Usuii cepat-cepat menyela.

“Omong kosong apanya?!”

“Hah?”

“Benarkah itu, Kaoru?”

“Ya! Sebenarnya Usuii itu—“

“Jangan dengarkan dia!”

“Dengarkan aku!”

“Usuii itu—“

“Kaoru!!”

“Blah, blah, blah, blah!”

Guys, ada apa?!” Haruka kebingungan.

“Begini, Haruka,” Kaoru mulai bercerita sambil matanya melotot kegirangan.

“Ceritakan itu dan Lady Moa akan kubunuh!” Usuii sudah mengangkat kaki Lady Moa, 
bersiap untuk melemparkannya jauh-jauh.

“JANGAAANNNN!” langsung Kaoru melompat dan langsung menyambar Lady Moa.

 Kalau di film-film harusnya si penyelamat mendarat dengan selamat di tanah bersama si korban dalam pelukannya. Tapi Kaoru malah tercebur ke dalam kolam seperti putri duyung.
Sepasang  mata marah dan rambut basah muncul dari kolam.

“USUII!!!”

-to be continued-

Kamis, 01 November 2012

Jane


Jane belari-lari kecil, mengitari domba-domba berbulu putih yang berjalan kesini kemari. Tongkat gembalanya teracung-acung ke arah kawanan itu. Ia mendongak ke atas. Masih pagi.

“Topaz!”ia bersuit.

Munculah seekor anjing German sheperd berbulu keemasan. Ekornya mengkibas-kibas kesenangan serta lidah merah jambonnya menjulur keluar. Anjing itu menggonggong kesenangan, menyahut panggilan Jane.

“Ayo cepat, nanti kita tidak bisa melihat matahari terbit!” Jane berkata sambil rambut cokelat berombaknya berkibar-kibar karena ia menoleh ke Topaz dan kawanannya yang mulai menjauh. Dengan buru-buru ia menutup gerbang kecil peternakan.

“Sharon! Aku pergi dulu!” Ia berteriak dari jauh ke arah jendela kayu di lantai dua yang mulai terbuka. Kakinya mulai berderap mengejar Topaz dan domba-dombanya.

Miss Jane! Jangan kabur dulu, tuan dan nyonya masih belum bangun !"

Jane mulai berlari tanpa memperdulikan Sharon. Dengan nafas tersenggal-senggal ia sampai di sebelah Topaz yang sibuk mengawasi kawanan. 

“Topaz, jaga dulu ya, aku mau naik ke bukit sebentar.” Jane mulai berjalan cepat ke arah sebuah bukit mungil yang terletak agak jauh. Topi yang digantungkan di belakang punggungnya melambai-lambai seirama hentakan kakinya.

Ia tersenyum lebar, mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya. Nah, ini dia momen yang ia tunggu-tunggu. Matahari mulai merekah dari belakang pegunungan  seperti balon berwarna emas yang kemudian pecah menjadi cahaya kuning nan hangat. Lambat laun, cahaya itu makin tinggi, menyebabkan lagit yang biru tua berubah menjadi biru muda.

Mendadak angin besar berdesir dan melepaskan topi Jane dari ikatannya. Topi itu mengudara seketika. Jane mendelik.

“Hey, kembali!” Secara refleks ia langsung mengejarnya sambil berusaha menggapainya.

Ia sangat beruntung topi itu tersangkut di suatu pohon besar yang rindang. Ia memanjatnya dengan cekatan. Ia terus naik ke atas. Naik, naik, naik.

 Ia bisa mendengar desah puas angin, melihat perlombaan awan yang berlari dengan kecepatan tinggi menuju utara, memerhatikan surai api kuda-kuda dari matahari yang turun ke bumi dan menatap wajah langit yang 
sedang memperhatikannya. Tanpa ia sadari, ia sudah berada di batas cakrawala.

Sesampainya di atas, ia berdecak kagum melihat pemandangan di sekitarnya. Dan langsung menyambar topinya yang tergantung di suatu dahan. Menalikannya erat-erat.  Kemudian saat ia menengok ke atas, ia terperanjat.

Aurora berwarna biru keunguan terpapar di atas langit, berkilauan. Langit yang tadinya biru muda yang 
seharusnya terang tiba-tiba berubah menjadi kelam. Seluruhnya terbuka menjadi sebuah  portal, menampakkan luar angkasa yang dihiasi oleh miliaran bintang.

“Tidak mungkin...ini indah sekali…!”Jane bergumam sambil tercengang. Matanya berkilat-kilat kesenangan.

 Untuk beberapa saat, semua terdiam. Bahkan tidak terdengar suara hembusan angin atau kicauan burung. Semua galaksi tersorot dari jauh. Hanya ada satu meteor yang melintas. Kemudian pemandangan dari portal itu buyar menjadi keping-kepingan awan yang menjadi bagian langit. Semuanya kembali jadi normal.

“Yah…” Jane masih ingin melihatnya sekali lagi. Saat ia mulai beranjak pergi dan membalikkan badannya, dalam seketika ia terpaku di tempatnya lalu membekap mulutnya sendiri yang menjerit kecil.

“Kau tidak akan melihat itu setiap hari.” Seorang anak laki-laki bersandar di dahan lain yang terletak di belakang Jane. Tangannya terlipat dan poninya acak-acakan tertiup angin.

“Siapa kamu?!” tanya  Jane secara refleks. Matanya melotot.

“Jay.”  Ia menjawab singkat, tidak tersenyum sama sekali. Ia menyingkirkan poni  hitam yang menutupi matanya.   “Kau?”

“J-Jane… Aku tinggal di sebuah peternakan tidak jauh dari sini…” Ia memaksakan seulas senyum walau masih shock.  Tetapi sangat ingin tahu tentang anak yang di depannya. “Kalau Jay tinggal dimana?”

Jay memandangnya dalam-dalam “Tidak perlu tahu.” Kemudian ia menggumamkan bahasa asing.

“Jujur saja, kau tinggal di mana? Sepertinya kau bukan dari daerah sini.” Tanya Jane antusias. Rasa kagetnya sudah menghilang seketika. 

“Sudah kubilang, tidak perlu tahu.” Jay menyipitkan matanya. “Bukan urusanmu.” Ia menambahkan.

“Kamu sinis sekali ya.” Jane berkata langsung tanpa memerdulikan perasaan Jay. Matanya memperhatikan jemarinya yang sibuk membenahkan rambutnya yang kusut. “Ngomong-ngomong, kamu dari tadi mengawasiku?”

Jay hanya bisa menatapnya nanar. “ Iya, semenjak kamu berlari meniggalkan anjingmu.”

Jane mengangkat satu alisnya. Ia menatap mata Jay lalu berkerut samar. “Hey, matamu...”

“Apa?”

“…Berwarna ungu ya?” Jane tersenyum lebar.

Jay mengedipkan mata dua kali sambil menggigit bibir bawahnya. “Kamu berbicara apa? Mataku berwarna coklat.”

Jane mencondongkan tubuhnya lebih dekat. “Ah, iya, betul juga!”  ia tertawa.

“Sana, turunlah. Bukannya kau harusnya memiliki tugas lain?” Jay mulai beranjak dari tempatnya sementara kedua tangannya ia kebelakangkan.

“Ya ampun! Aku hampir saja lupa!” Jane dengan terburu-buru menuruni pohon yang tinggi itu. Hangatnya matahari mulai meresap ke dalam tubuhnya dan burung-burung mulai berkicauan.

Kepalanya masih berpikir keras tentang sikap Jay dan kata-kata yang ia ucapkan. Semuanya… aneh. Firasatnya mengatakan ia harus kembali, tetapi otaknya melawan keras dengan alasan-alasan lain. Ia harus kembali. Harus. Jane memaksakan tubuhnya untuk bergerak, walau tidak enak melawan otaknya. Kakinya yang memanjat turun mulai memanjat naik lagi.

Akhirnya tangannya menggapai-gapai dahan paling atas. Ketika ia mendapatkannya, langsung ia menarik dirinya. Sampai. Tetapi mengapa ada suara aneh? Suara itu seperti lolongan serigala, tetapi bercampur suara air yang teraduk-aduk dengan badai petir.

Ia melongok ke atas. Matanya menangkap sosok Jay memegang sebuah elemen yang berputar-putar di atas kedua telapak tangannya. Elemen itu mirip bola api, tetapi berwarna ungu, persis seperti warna matanya tadi yang  ia salah lihat. Atau ia tidak salah lihat.

Mulut Jane menganga. Ia menampar pipinya sendiri sampai merah. Tidak, ini bukan mimpi. Kemudian ia memperhatikan mata Jay yang tajam. Mata yang tadinya menjelma menjadi warna cokelat berubah menjadi ungu perlahan-lahan.

Jay tiba-tiba tergelincir, kakinya kehilangan pijakan. Tangannya menggelepar mencari pegangan tetapi hanya menemukan dahan kecil untuk bertahan. Lama-lama dahan itu mulai retak. Jane menahan nafasnya.
Jay menengok ke bawah. Hanya ada tanah kosong yang terbaring puluhan meter dari dahan itu. Keringat dingin mulai membanjiri kening serta punggungnya. Ia bergidik membayangkan dirinya mati terjatuh dengan kepala pecah di tanah. Tidak, ia tidak mau mati sekarang. Dahan kecil itu patah. Ia bisa merasakan dirinya melayang. Udara mulai menusuk-nusuk kulitnya seperti jarum. Tamatlah dia.

Di saat yang tepat, ia merasakan tangannya ditarik oleh seseorang. Tangan yang menyelamatkannya terasa hangat. Keringat dinginnya mulai berkurang. Beberapa detik kemudian, ia sudah di atas. Ia menemukan wajah yang khawatir dan ketakutan. Wajah seorang gadis yang berambut coklat kusut.

“Kau…” Jay memulai, tetapi jantungnya tidak bisa berhenti berdetak karena shock.

“Jay tidak apa-apa, kan?” Jane bertanya cemas. “Apakah kau tidak berhasil?”

“Kau melihatku? Melihat aku melakukan semua itu?” Jay tercengang sekaligus takut.

“Benar.” Jane terkekeh.

Keduanya teduduk. Masih belum percaya dengan apa yang barusan terjadi.

“Bagaimana kau bisa kembali ke sini?” Jay bertanya pelan.

“Oh, itu. Aku kembali karena aku menyadari hal yang aneh darimu. Seperti kau tiba-tiba muncul di hadapanku, berkata bahwa aku memiliki tugas lain, padahal kau tidak melihatku menggiring domba-dombaku. Kau juga tidak mau memberitahu cara kau sampai ke sini, kau menggumamkan bahasa asing, matamu tadinya berwarna ungu dan menaruh kedua tanganmu di belakang. Itu tidak biasa.” Jane meringis.

Jay melengos.

“Dan kau bilang bahwa kau sudah mengawasiku sejak aku meninggalkan anjingku.  Bagaimana kau bisa tahu semua itu? Padahal aku meninggalkan Topaz satu kilometer dari sini. Mustahil ‘kan manusia bisa melihat jauh dari pohon di atas sebuah bukit kecil. Hanya elf yang bisa melakukan itu!” Mata Jane mulai berbinar-binar.

“Kau mengatakan aku bukan manusia?” Jay berkerut samar.

“Tepat sekali!” Jane mengacungkan jempolnya. “Dan menurutku, kau terdampar karena portal itu terbuka, dan kau ingin kembali membuka portal itu agar kau bisa pulang!”

Suasana hening untuk sesaat.  Hanya ada suara burung dan daun-daun yang bergesekkan.

“Hebat. Semua tebakkanmu benar.” Jay memandang mata Jane dalam-dalam. Matanya mulai berubah ke warna aslinya.

“Jadi, bagaimana sekarang?” Jane bertanya.

“Yang jelas aku tidak akan bersikap sinis lagi kepadamu…Maaf aku sudah bersikap seperti itu.” Pandangan 
Jay menerawang masuk ke dalam matan Jane yang hangat. Raut mukanya menjadi makin serius.

“Hah, kau ini, begitu saja sudah merasa bersalah!” Jane meninju pelan lengan Jay sambil terbahak-bahak. 

Tawanya memecahkan sikap canggung Jay.

Si pemilik mata ungu berusaha menahan senyumnya.

Tak lama kemudian, kedua orang itu sudah asyik mengobrol seperti teman lama.

“Ngomong-ngomong, Jane. Terimakasih ya sudah menolongku.” Jay berkata dengan jelas dan agak lantang. Supaya Jane tidak salah dengar.

“Bukan masalah.” Jane menjawab dengan senang hati.  Bola matanya berkelip.

Anak ini…Jay membatin. Lagi-lagi gadis berambut coklat kusut ini membuat Jay merasa nyaman dan hangat. Hangat yang ia belum pernah rasakan di dunianya. Kemudian, Jay tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya.

Rabu, 17 Oktober 2012

Harta Sesungguhnya


Ketika bulan berlingkaran penuh terpampang di atas langit, ada sungai lebar yang masih mengalir dan memantulkan cahaya bulan ke sekitarnya. Ada sebuah kapal mewah dan besar  yang mengambang bebas di atas air. Kadang kapal itu terayun-ayun pelan saat diterpa ombak kecil, atau berguncang dengan keras saat ombak keras menghantam.

Samar-samar, terlihat dua sosok bayangan dari dalam jendela yang diterangi oleh lampu LED. Satu bayangan adalah perempuan, dan satunya laki-laki.

“Zircon, kamu harusnya seperti ini!” Onyx menukar kartu jack kakanya dengan as .

“Lho, bukannya yang itu lebih tinggi dari pada as ya?” Zircon bertanya kepada adik perempuannya.

“Bukan, masak lupa apa yang…ayah ajarkan dulu?” Onyx tertawa kecil.

“Aku tidak tahu mengapa…ayah…belum pulang dari proyeknya sekarang, padahal sudah tujuh tahun. Kabar yang ia berikan dua tahun lalu hanyalah ia harus meneliti lebih lama, dan memiliki sebuah rumah baru,” Ia berkata dengan nada yang biasa, tetapi matanya berlinang-linang air mata.

Zircon terduduk diam, menyingkirkan tumpukkan kartu yang ada di depannya. Keningnya berkerut samar. Untuk sesaat, hanya ada bunyi air mengalir serta serta diiringi suar jangkrik-jangkrik.

 “Aku tahu,” ia memulai “ini sangat sulit untuk kita…apa lagi ditambah...kematian ibu.”  Suaranya mulai bergetar, tetapi ia mengambil nafas dalam.

“Aku merindukan keduanya, meskipun kita sudah memiliki kehidupan yang lebih baik dibandingkan yang dulu.”

“Sebentar lagi, Onyx, aku berjanji.” ia mendekap adiknya yang berkaca-kaca. “Kita akan segera berjumpa dengan ibu dan ayah kita. Jika saja kita bisa mempercepat proses pembuatan mesin waktu…”

Onyx yang terhibur dengan perkataan Zircon melepaskan pelukannya, “Aku harap ayah tidak keberatan melihat kita memakai kapalnya untuk percobaan.”

“Ia pasti bangga dengan kita.” Zircon menyengir. Ia menepuk-nepuk kepalanya yang berambut hitam 
kecoklat-coklatan.

Di pagi hari, seekor burung yang hinggap di jendela menemukan mereka bekerja dari semalaman.

“Onyx, coba lihat sini!” Zircon berkata dengan antusias, matanya yang hijau berbinar-binar.

Onyx berlari ke arah Zircon, “Apa yang terjadi?”

“Kita hanya memerlukan satu zat lagi untuk menyelesaikan mesin ini! Yang diperlukan hanyalah sesuatu yang memiliki kehidupan yang terdapat dari yang hidup, bisa menghidupkan barang yang mati, tidak akan teroksidasi dan terletak di dalam sumber zat itu… dan yang paling penting adalah elemen ini tidak mengandung besi dan tidak terbuat dari dua macam elemen.”

“Bagaimana dengan oksigen? Hanya memiliki suatu elemen, bisa menghidupkan, tidak mengandung besi, dan terdiri dari satu elemen.” Onyx menyarankan.

“Tapi dia tidak terkandung di dalam sumbernya kan?” Zircon menggaruk-garuk kepalanya walau tak gatal.

“…benar juga…” Onyx menybakkan rambutnya yang berantakan.  

“Kalau hidrogen?”

“Bukan.”

“Iodin?”

“Beracun, tetapi bisa menjadi antiseptik. Sama sekali tidak memberi kehidupan.”

“Sulfur! Tidak mungkin.” Zircon kembali termenung.

Dari pagi sampai malam mereka mencari tahu apa unsur yang mereka harus temukan, tetapi tidak sampai Onyx berteriak “Zircon! Ada kebakaran!”

“Apa?! Dimana pusatnya?!” matanya membelalak, seketika itu ia langsung berdiri meninggalkan komputer dan peralatannya.

“Di ruang kendali!”

Keduanya bergegas ke ruang kendali, tetapi sudah terlambat.  Meskipun pemadam api otomatis yang di atas langit-langit sudah berfungsi semaksimal mungkin, api sudah menjalar ke kiri dan kanan mereka, menghadang di setiap sudut. Warnanya bukan merah, melainkan biru yang berarti tingkat paling panas dalam api. Bau menusuk mulai menguasai ruangan.

“Mesin waktu kita, masih di ruang kerja…!” Onyx teringat seketika. Mata hijaunya memancarkan sinar horor.


“Jangan, pasti api sudah membakarnya. Hidup kita lebih berharga daripada sebuah mesin belaka…” Zircon berkata-kata, tetapi hanya ia sendiri tahu bahwa ia tidak rela.

Onyx kembali menatap ruang kerja mereka . Ia menatap kakaknya, ke ruang kerja, lalu kembali ke Zircon. Tatapannya sangat memohon, matanya menunjukan bahwa ia tidak memiliki harapan lagi.

Bagaimanapun juga, Zircon tetap menggelengkan kepalanya dengan berat ke arah adiknya, Onyx yang malang.Ia sudah membulatkan tekadnya untuk melindungi Onyx, meski Onyx meronta-ronta atau menangis demi mengambil mesin waktu itu, ia tetap akan menahannya. Onyx hanyalah satu-satunya yang tersisa dari keluarganya. Ia tidak mau Onyx menghilang dari hadapannya. Sungguh.

Zircon menarik tangan Onyx, berlari ke pintu keluar. Sebuah pilar terjatuh dan memblok jalan. Suaranya bagaikan ular yang berdesis keras, dan asap membius menyebar. Kedua itu membalikkan badan ke belakang, tetapi percuma saja. Dimana-mana ada api. Hanya ada satu pilihan tersisa.

“Onyx, mundur!” Zircon berteriak ke adiknya yang panik.

“Apa yang akan kau lakukan?!” Onyx terkejut. Saat itu juga, ia menyadari bahwa seorang kakak jauh lebih berharga dibandingkan mesin waktu. Tak sampai hati Onyx membiarkan satu-satunya orang yang ia sayangi melukai dirinya sendiri demi seorang adik perempuan yang tidak bisa apa-apa.

“Aku akan baik-baik saja.” Kakaknya membaca ekspresi wajahnya dengan serius.

Onyx dengan pasrah mundur. Dengan satu tendangan keras yang menggelegar, jendela kapal terpecahkan. Untunglah itu terbuat dari kristal, jadi tidak tajam.

“Lompat, sekarang!” Zircon menggenggam pergelangan Onyx, lalu terjun ke air sungai yang dalam, biru dan dingin. Kapal yang mereka tinggalkan seketika itu meledak, seperti bom yang dipersiapkan.

Dengan nafas tersenggal-senggal mereka berenang ke daratan. Zircon dan Onyx melempar diri mereka ke tepi. Semua basah kuyup. Dunia menyambut kedua saudara ini dengan dingin,  sama seperti angin yang berdesir kencang.Zircon dan Onyx saling bertatapan sambil menggigil. Mereka tahu tidak ada yang tersisa. Hanya sepotong harapan yang mereka kantongi.

“Jadi…apakah ini takdir? Apakah hilangnya seorang ayah dan matinya seorang ibu tidak cukup untuk kita? Bahkan sebuah mesin waktu, sebuah harta bernilai, juga turut terbakar…” Onyx memulai dengan suara serak. Bibirnya berubah menjadi biru, tetapi ia tidak memperdulikannya.

Zircon menatap tanah. Perasaannya bercampur aduk. Takut, kekhawatiran, rasa tidak aman dan kemarahan. Ia kembali teringat usaha yang mereka buat untuk membangun mesin waktu. Mereka mengorbankan waktu, pikiran, tenaga dan emosi, tetapi semuanya sia-sia. Ia sendiri tidak sadar setetes air mata bergulir di pipinya dan menetes di atas tangannya yang lecet.

Jadi…apakah ini takdir? Tidak. Ia melihat seorang gadis berambut hitam kecoklatan yang duduk di sebelahnya, bibirnya biru dan kulitnya pucat. Ia menatap dirinya di permukaan sungai. Keluarga inilah harta sesungguhnya, bukan sebuah mesin waktu. Mereka sudah berhasil melewati semua rintangan hidup, dan bertahan sampai akhir. Zircon tersenyum dan merangkul Onyx.

“Aku dan kamu…adalah harta sesungguhnya.” Ia berbisik dalam telinga Onyx.

Onyx demikian merasakan hal yang sama. Ia menangis tersedu-sedu.

“Apa yang terjadi? Apa—“ suatu suara asing masuk, tetapi tiba-tiba terhenti saat pemilik suara itu melihat sosok kedua orang itu.

Zircon dan Onyx memalingkan wajahnya ke asal suara itu dengan cepat. Mata mereka terbuka, mulut mereka ternganga. Zircon berdiri perlahan lahan, kemudian disusul Onyx. Onyx menggandeng tangan Zircon dengan erat, lalu saling bertatapan. Mereka tidak bisa berkata-kata, tetapi ada suatu perasaan yang tidak bisa dijelaskan muncul. Ya Tuhan…Ini tidak mungkin terjadi.

Zircon menatap orang tersebut dalam-dalam. Sebuah senyum terulas di wajahnya. Orang itu juga mulai tersenyum dengan sinar mata hijau yang lembut dan berkaca-kaca.

Kemudian Zircon  mengeluarkan satu kata. Kata yang sekarang tidak terdengar asing lagi.
“Ayah?”
*E.D.K.*